Jadi, Nuzulul Al-Qur'an adalah peristiwa turunnya Al-Qur'an dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup umat manusia.
Proses Turunnya Al-Qur'an dalam Dua Tahapan.
Pertama, Turunnya Al-Qur'an Secara Keseluruhan.
Al-Qur'an diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfuzh (اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ) ke Baitul 'Izzah (بَيْتِ الْعِزَّةِ) di langit dunia, pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.
ALLAH Ta'ala berfirman :
اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ فِىۡ لَيۡلَةِ الۡقَدۡرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatil Qadr.
[QS. Al-Qadr : 1]
dalam ayat lain, Allah Ta'ala Berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.
[QS. Ad-Dukhan : 3]
IMAM ATH-THABARI Rahimahullah mengatakan :
عن ابن عباس، قال : نزل القرآن كله مرة واحدة في ليلة القدر في رمضان إلى السماء الدنيا
Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Al-Qur'an turun seluruhnya dalam satu kesatuan di Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia.
[Tafsir Ath-Thabari : Jilid 3, Halaman 190]
Dan penjelasan ini dirincikan oleh Sayyidina Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhu ketika menafsirkan ayat lainnya.
ALLAH Ta'ala berfirman :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ.
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an
[QS. Al-Baqarah : 185]
IMAM ATH-THABARI Rahimahullah mengatakan :
عن ابن عباس، قال : نزل القرآن في ليلة من السماء العليا إلى السماء الدنيا جملة واحدة، ثم فُرِّق في السنين، وتلا ابن عباس هذه الآية : فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ) قال: نزل متفرّقا.
Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Al-Qur'an diturunkan di malam hari dari langit tertinggi secara satu kesatuan, lalu diturunkan secara berbeda-beda antara tahun ke tahun, lalu beliau (Ibnu Abbas) membaca ayat : "Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Qur'an", kemudian beliau berkata : Turun secara bagian demi bagian.
[Tafsir Ath-Thabari : Jilid 3, Halaman 447]
Kedua, Turun Secara Bertahap (Bagian demi bagian)
Al-Qur'an diturunkan secara bertahap dari Baitul 'Izzah kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril selama 23 tahun (13 tahun di Makkah, 10 tahun di Madinah).
Allah Ta'ala Berfirman :
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا
Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia, dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.
[QS. Al-Furqan : 23]
Dalam ayat lain, Allah Ta'ala Berfirman :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
"Berkatalah orang-orang kafir: 'Mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja?' Demikianlah, agar Kami teguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur)."
[QS. Al-Isra : 106]
Nuzulul Qur'an pertama kali terjadi pada malam 17 Ramadhan di Gua Hira, dengan ayat pertama QS. Al-'Alaq: 1-5. Peristiwa agung ini menjadi tonggak awal risalah kenabian Rasulullah SAW sebagai pembawa wahyu Allah untuk umat manusia.
ALLAH Ta'ala berfirman :
اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
Jika kamu beriman kepada ALLAH dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan, ALLAH Mahakuasa atas segala sesuatu.
[QS. Al-Anfal : 41]
IMAM ATH-THABARI Rahimahullah mengatakan :
قال الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنه : كانت ليلة "الفرقان يوم التقى الجمعان"، لسبع عشرة من شهر رمضان.
Telah dikatakan oleh Al-Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib Radhiallahu 'Anhu bahwa malam Furqan yaitu pada hari bertemunya dua pasukan yang itu terjadi pada 17 Ramadhan.
[Tafsir At-Thabari : QS. Al-Anfal, Ayat 41].
IMAM IBNU KATSIR Rahimahullah juga menukil penafsiran dari Al-Hasan Bin Ali diatas, kemudian beliau berkomentar :
ﻭﻫﻮ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻐﺎﺯﻱ ﻭاﻟﺴﻴﺮ.
Inilah pendapat yang Shahih menurut ahli sejarah peperangan.
[Tafsir Ibnu Katsir : Jilid 7, Halaman 90].
IMAM IBNU KATSIR Rahimahullah juga berkata :
وروى الواقدي بسنده عن أبي جعفر الباقر أنه قال : كان ابتداء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الاثنين، لسبع عشرة ليلة خلت من رمضان، وقيل في الرابع والعشرين منه.
Diriwayatkan oleh Al-Waqidi dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Ja'far Al-Baqir bahwa dia berkata : Awal diturunkanya wahyu kepada RASULULLAH Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah pada hari Senin, 17 Ramadhan, dan pendapat lain mengatakan pada 24 setelahnya.
[Al-Bidayah Wa An-Nihayah : Jilid 3, Halaman 11]
SYAIKH MUHAMMAD 'ALI ASH-SHABUNI Rahimahullah berkata :
كان بدء نزول القران الكريم فى السابع عشر من رمضان للاربعين سنة خلت من حياة النبي ﷺ
Dulu awal turunnya Al-Qur'anul karim adalah pada 17 Ramadhan kala NABI Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berusia 40 tahun.
[At-Tibyan Fii 'Ulumil Qur'an : Halaman 14]
Nuzulul Qur'an adalah momentum bagi kita semua untuk merenungkan kembali betapa agungnya Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Al-Qur'an bukan sekadar bacaan ritual, tetapi cahaya yang membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya iman. Ia adalah petunjuk bagi mereka yang mencari kebenaran, obat bagi hati yang resah, dan pedoman bagi jiwa yang haus akan petunjuk Ilahi.
Al-Qur'an turun di tengah masyarakat yang penuh dengan kejahiliyahan, kekacauan moral, dan hilangnya nilai-nilai ketuhanan. Ia datang sebagai rahmat, membimbing umat manusia untuk mengenal Tuhannya, mengenal dirinya, dan mengenal hakikat kehidupan.
Namun, makna Nuzulul Qur'an tidak hanya berhenti pada peristiwa sejarah turunnya wahyu, tetapi harus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur'an harus menjadi "teman setia", dibaca, dipahami, direnungi, dan diamalkan.
Momentum Nuzulul Qur'an seharusnya menjadi ajang muhasabah (introspeksi diri), sejauh mana kita sudah berinteraksi dengan Al-Qur'an? Sudahkah Al-Qur'an menjadi penuntun dalam mengambil keputusan? Sudahkah ia menjadi pegangan dalam menghadapi ujian dan kesulitan hidup?
Al-Qur'an turun untuk membimbing: Bacalah, bukan hanya dengan lisan, tapi dengan hati. Pahamilah, bukan hanya dengan akal, tapi dengan iman serta Amalkanlah, bukan hanya dalam ucapan, tapi dalam perbuatan.
Mari jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam Membangun keluarga sakinah berdasarkan nilai Al-Qur'an, Mendidik generasi Qur'ani, yang mencintai ilmu, adab, dan iman serta Mengatur masyarakat yang berkeadilan dan penuh kasih sayang Karena Al-Qur'an adalah rahmat bagi seluruh alam.
[Firdaus Muhammad]