Header Ads Widget



Mencontoh Tradisi menyambut Ramadhan dari Turki Ustmaniyah


Penulis : Wardatul Ula B.A. Staff Kuttab al Fatih Aceh yang pernah menimba ilmu di Turki.

Purnama Sya’ban sudah semakin mengecil, itu pertanda bahwa bulan baru akan segera datang. Tanpa terasa bulan mulia Ramadhan akan segera singgah di keharibaan kaum muslimin. Sangat menyedihkan jika Ramadhan hanya berlalu begitu saja tanpa persiapan yang matang. Karena sejatinya Bulan Ramadhan ini adalah bulan terbaik dalam setahun yang kita nanti-nantikan datangnya. Para sahabat dan orang-orang shalih terdahulu sudah berdoa dan memulai persiapan memasuki Bulan Ramadhan dari enam bulan sebelumnya. Mereka menyiapkan persiapan finansial, ilmu yang mumpuni, fisik yang kuat, dan lebih lagi mental atau ruh yang benar-benar siap menyambut Ramadhan penuh berkah.

Setiap muslim di berbagai negara pastinya memiliki kebiasaan unik tersendiri menyambut bulan mulia ini. Merujuk kepada pusat kejayaan Islam terakhir, Turki Ustmani sebagai tempat yang menyimpan sebuah peradaban Islam yang pernah berjaya dan dengan izin Allah akan terulang kembali. Kita sebagai khalifah yang akan kembali menyusun batu bata peradaban Islam harus memiliki semangat yang besar akan kelahiran kembali “Sultan Muhammad al Fatih” di masa yang akan datang. Keyakinan itu harus kita rawat dengan sepenuh hati. Dengan membawa semangat tersebut, wajib bagi kita rasanya membangun negara Islam yang madani dan masyarakat yang berakhlak mulia sehingga bisa menjalankan nilai-nilai keislaman dengan sangat baik khususnya di Bulan Ramadhan, dan tentunya dengan ilmu yang sudah kita persiapkan sehingga menjadi amalan yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Menjelang masuknya Bulan Ramadhan, masyarakat Turki Utsmani memiliki beberapa tradisi unik yang mungkin belum banyak diketahui oleh khalayak ramai yang bisa kiranya menjadi rujukan bagi kita sebagai daerah yang menjunjung tinggi syariat Islam, Aceh sebagoe Bumoe Seuramoe Mekkah. Diantara tradisi tersebut adalah 

1. Pemerintah Utsmani akan menerbitkan maklumat semacam surat berisi peringatan untuk setiap muslim dan non muslim. Supaya bisa tetap saling menghargai mereka yang tidak beragama Islam /non muslim selama Bulan Ramadhan. Ini adalah bentuk toleransi pemerintah yang mengayomi dan juga meninggikan derajat gayri muslim. Apa saja yang boleh ataupun tidak boleh dilakukan bagi mereka yang tidak berpuasa selama Bulan Ramadhan. Maklumat tersebut bisa kiranya menjadi rujukan di bumoe Aceh bagaimana adab makan dan minum bagi yang tidak berpuasa di Bulan Ramadhan dan menciptakan atmosfer tarbiyah bagi anak-anak menikmati Bulan Ramadhan dengan semestinya. Walaupun sekarang, jika kita ke Turki di Bulan Ramadhan terlebih belahan Eropa kita akan menemukan pemandangan sebaliknya imbas dari sekularisme Turki. Kita juga akan menemukan pemandangan serupa di kota-kota tertentu di Indonesia, orang-orang dengan leluasa makan dan minum di tempat terbuka di Bulan Ramadhan sehingga menjadikan Ramadhan terasa hambar dari atmosfer sesungguhnya.
Dalam sejarah peradaban Islam pada masa kesulthanan Ustmaniyah, penentuan malam pertama Ramadhan juga tak jauh berbeda seperti yang kita lakukan saat ini. Hanya saja, dahulu para Qadhi (pemimpin) dan jajarannya langsung naik menuju tempat paling tinggi untuk melihat hilal, belum adanya alat secanggih sakarang. Masyarakat menunggu dengan penuh kegembiraan kabar datangnya Bulan Ramadhan sehingga mereka keluar dari rumah-rumahnya membawa penerang jalanan hingga mengantarkan para Qadhi pulang ke rumahnya masing-masing. Lalu mereka memberikan pengumuman ke jalan-jalan bahwa tarawih akan segera dimulai dengan penuh kegembiran atas penantian panjang bulan mulia tersebut.

Menarik sekali jika mengingat bagaimana euphoria Ramadhan dari tanah Ustmaniyah. Bagaimana tidak, mulai malam pertama Ramadhan hingga diakhiri dengan awal Syawal, lampu menyala dimana-mana. Setiap masjid dan jalanan menjadi terang benderang. Bukan hanya lampu jalanan biasa, tapi ditambah dengan lampu hias dan berbagai lampu lainnya yang menjadikan malamnya bak siang hari. Bukan tanpa alasan semua menjadi terang dan bercahaya di malam-malam Ramadhan di Turki. Ini adalah tradisi yang sudah dihidupkan semenjak kesultanan sebagai motivasi agar semua muslimin semangat untuk beribadah sepanjang bulan memanen pahala tersebut secara bersama-sama, karena para muslim Turki begitu mencintai ibadah secara jama’i. Sangat ironis rasanya jika menemukan beberapa masjid atau surau-surau di daerah kita yang gelap gulita di malam-malam Ramadhan. Jangankan menghidupkan ayat-ayat Allah di sepanjang malamnya, untuk memenuhi masjid dengan tarawih saja sebagian anak-anak muda lebih memilih di warung kopi menikmati game online. Menyejukkan pandangan sekali jika kita melihat masjid-masjid yang dipenuhi oleh para pemuda yang mentadabburi Al-Qur’an dan membuat majlis-majlis ilmu. Tapi tentunya ibadah jama’i yang dilakukan di malam-malam Bulan Ramadhan ini tidak menganggu aktifitas para ibu-ibu beserta bayi dan balita yang sedang beristirahat dengan menghidupkan suara microfon yang besar dari malam hari hingga sahur.

Sahur di peradaban Turki Ustmaniyah juga tak jauh berbeda dari yang biasa kita temui di Aceh, adanya orang memakai rompi atau sejenisnya yang menggendong drum dan tumbukan besar di perutnya untuk membangunkan sahur, dahulu mungkin juga disertai dengan pukulan bedug dan nyanyian khasidah Turki. Hal ini ternyata memang turunan dari peradaban Islam terdahulu, ada nya orang khusus yang ditugaskan untuk membangunkan orang-orang ketika sahur yang disebut “al-musaharati” yang sudah ada sejak zaman kejayaan Islam di masa Abbasiyah. Tradisi ini juga banyak dilakukan oleh berbagai negara-negara Islam lainnya hingga hari ini. Walaupun sekarang kita sudah lebih dimudahkan untuk menyetel alarm dari hp masing-masing agar tidak melewati keberkahan sahur, namun ada rasa yang berbeda yang menambah kesyahduan Ramadhan dengan al-musaharati.

Di Turki, sebelum datangnya Ramadhan, ibu-ibu sudah mempersikan gudang makanan untuk memudahkan selama Bulan Ramadhan. Di Aceh sendiri, kita memiliki tradisi meugang satu atau dua hari sebelum memulai puasa. Sehingga biasanya ada olahan khusus “sie reuboh” yang bisa disantap selama sebulan Ramadhan. Ini merupakan suatu persiapan dari sisi makanan ataupun kebutuhan jasmani selama Ramadhan. Selain mempersiapkan hal tersebut, mempersipkan fisik dengan melatih membiasakan ibadah puasa sunnah, tadarus Al-Qur’an, qiyamul lail, memperbanyak sedekah di Bulan Sya’ban adalah keharusan dan pemanasan sebelum memasuki Ramadhan.
2. Salah satu persiapan lainnya menjelang Ramadhan selain ilmu dan bekal fisik yang sehat adalah persiapan finansial. Di Turki Ustmani dahulu orang-orang memiliki celengan khusus yang nanti akan diperuntukkan khusus untuk Ramadhan. Dan istimewanya juga negara memiliki wakaf produktif khusus yang diperuntukkan untuk segala pembiayaan selama Ramadhan yang sudah mulai dibuat pada masa Imam Malik radhiallahu anhu. Wakaf ini nantinya akan diperuntukkan untuk pembiayaan sahur maupun ifthar, dan juga bagi para pelayan ilmu selama Ramadhan. Yang mengkhatamkan Al-Qur’an selama Bulan Ramadhan juga nantinya akan diberikan hadiah oleh negara yang bersumber dari wakaf. Menarik jika di nanggroe kita Aceh Darussalam ini juga diberikan motivasi berupa hadiah bagi siapa saja yang bisa mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadhan, karena hal ini pernah dilakukan oleh para sulthan di masa kejayaan Islam, Turki Ustmaniyah.

Pada masa Turki Utsmani, sekolah selama Bulan Ramadhan diliburkan, namun tidak libur menuntut ilmu, khususnya ilmu agama. Para pemuda yang memiliki ilmu yang mumpuni akan disebar ke pelosok-pelosok untuk mengajarkan Al-Qur’an, ilmu agama, menjadi imam tarawih, dan sebagainya yang semua pembiayaannya menggunakan dana wakaf. Sayangnya di negara kita ini, belum ada pemerintahan wakaf yang terorganisir dengan baik. Padahal jika badan wakaf ditopang oleh Negara dangan baik, kesejahteraan akan terjamin dengan izin Allah.

Mendekati Bulan Ramadhan, pemerintah Turki Ustmani juga akan mengontrol harga pasar. Sehingga bahan pokok kebutuhan masyarakat menduduki harga yang stabil bahkan lebih murah menjelang dan selama Bulan Ramadhan. Alhamdulillah alternative yang dibuat oleh pemerintah kita saat ini seperti bazar sembako menjelang Ramadhan sudah sangat membantu masyarakat. Semoga kedepan semakin banyak kebijakan-kebijakan lainnya yang bisa menjadikan ekonomi masyarakat lebih stabil dan membahagiakan masyarakat menjelang Ramadhan sehingga muslimin bisa menyambut dan menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan dengan penuh sukacita.

Tak hanya mengontrol ekonomi masyarakatnya, tradisi yang lebih menarik dari Ottoman yang belum bisa sepenuhnya kita adopsi adalah,membayarkan hutang saudara seiman. Saudagar-saudagar kaya akan datang ke pasar-pasar untuk melihat Zimem defteri (buku catatan hutang). Mereka akan melunasi hutang saudara-saudara muslimnya tanpa mengetahui siapa orang tersebut sehingga dengan begitu semua orang akan benar-benar merdeka dari hutangnya dan bisa beribadah dengan maksimal di Bulan Ramadhan tanpa harus tertekan karena masih harus bekerja untuk melunasi hutangnya.
3. Setelah persiapkan ilmu, fisik, ruh dan juga finansial yang seimbang menyambut Ramadhan. Layaknya yang biasa kita lakukan di Indonesia, tradisi di Turki Ustmani setelah membersihkan jiwa, mereka juga membersihkan lingkungan menyambut bulan Ramadhan. Ibu-ibu Turki yang memang sangat gemar membersihkan rumahnya setiap hari akan melakukan pembersihan general menjelang Ramadhan. Spesialnya mereka akan menempel “mahya” sebuah pesan yang dituliskan dengan lampu kecil atau lilin yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk kata-kata atau kalimat yang dapat dilihat dari jauh. Seiring berjalannya waktu mahya berkembang menjadi bentuk seni yang lebih luas. Ia menjadi hiasan yang bergantungan di menara-menara tinggi masjid. Mahya akan terlihat di malam hari sehingga akan menghasilkan pemandangan yang sangat indah selama malam-malam Bulan Ramadhan. Salah satu tulisan mahya di Blue Mosque, masjid yang menjadi icon Turki beberapa tahun silam ketika saya masih menimba ilmu disana adalah “Hos geldin onbir ayin sultani” selamat datang bulang pemimpin sebelas bulan lainnya. Mahya ini bisa kiranya kita adobsi. Menempelkan tulisan-tulisan berisi pesan Ramadhan di masjid kebanggan ureung Aceh, Masjid Raya Baiturrahman sehingga menjadi booster semangat bagi muslimin dan menambah keindahan malam-malam Ramadhan di Aceh sebagai tempat destinasi wisata islami.
Ramadhan di Turki juga identik dengan beberapa kegiatan seperti festifal dan bazar yang dilakukan sebulan penuh, ini sudah banyak dilakukan oleh pemerintah dan berbagai instansi terkait di tempat kita, hanya saja mungkin belum ada bazar sebulan penuh selama Ramadhan.

4. Yang terakhir yang tak boleh terlupa dari peradaban Ottoman dari uniknya semua tradisi disana adalah. Tradisi berbagi yang luar biasa. Tradisi ini memang tidak bisa jauh dari muslim seperti yang sering kita dengar bahwa Rasulullah tauladan kita adalah orang yang paling dermawan dan beliau shallahu alaihi wasallam semakin dermawan lagi di Bulan Ramadhan yang pahalanya dilipat gandakan. Berbagi ifthar kepada sesama yang dilakukan oleh pemerintah dan orang-orang Turki tak mampu saya deskripsikan. Walaupun di berbagai masjid-masjid dan juga tempat-tempat umum lainnya tempat kita sekarang ini sudah banyak menyediakan ifthar gratis ketika Ramadhan, namun tetap belum pernah bisa menandingi semangat orang-orang Turki dan juga Negara-negara timur tengah lainnya seperti di haramain untuk berbagi makanan paling istimewa untuk orang-orang yang berbuka puasa.

Ketika masih di Turki puluhan tahun silam, saya dan teman-teman hampir kebingungan untuk membagi jumlah kami para mahasiswa asing yang datang dari berbagai Negara untuk menghadiri undangan berbuka yang datang dari ibu-ibu turki yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah kami. ketika kami datang memenuhi undangan tersebut, kami betul-betul speechless melihat semangat orang-orang Turki menjamu para tamu dengan jamuan paling istimewa, makanan paling spesial yang sudah dipersiapkan. Tak hanya itu, mereka juga membekali kami oleh-oleh ketika pulang.
Pada zaman pemerintahan Turki Ustmaniyah sendiri, istana negara dibuka untuk siapa saja yang ingin datang berbuka puasa, tak pandang bulu, semuanya bisa menikmati hidangan yang sama. Tak hanya itu, mereka juga diberikan buah tangan emas ataupun perak sebelum meninggalkan istana negara.

Bukan hanya kalangan pemerintah ataupun konglomerat yang semangat untuk berbagi di Bulan Ramadhan di Turki, orang-orang biasa juga memiliki semangat yang tak kalah hebantnya. “askida ekmek” roti yang disangkut. Ini salah satu contoh menawan bagaimana orang-orang biasa menyedekahkan kembalian dari uang ketika membeli roti nya untuk dibelikan roti lebih sebagai sedekah bagi yang membutuhkan. Jadi hampir setiap toko roti di Turki selama Bulan Ramadhan, memiliki roti gratis yang disangkut di depan toko dan boleh diambil oleh siapa saja untuk berbuka. Maasya Allah tradisi yang begitu menyejukkan jiwa.
Semangat berbagi itulah yang kiranya bisa dicontoh oleh orang-orang Aceh khususnya yang Allah berikan kelebihan harta, sehingga harta akan menjadi semakin berkah dengan berbagi, bersedekah, dan berinfaq.

Jika hari ini kita melihat sudah banyak sekali iklan-iklan sinetron ataupun hiburan-hiburan lainnya yang ditawarkan selama Bulan Ramadhan, kenapa kita masih terdiam sedangkan Ramadhan sudah di depan mata, dan masih banyak sekali persiapan tawaran Allah yang harus kita ambil menjelang Ramadhan. Sudah tersadarkah kita? 

Sudah Ramadhan ke berapakah ini dalam hidup kita? Sebagai seorang muslim, apakah kita hanya membiarkan ia berlalu begitu saja seperti sebelum-sebelumnya? Jika Bulan Ramadhan saja tidak menjadikan hidupmu lebih baik dan bermakna, mau tunggu kapan lagi?!
Semoga apa-apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut Bulan Ramadhan kali ini mendapatkan keridhaan dari Allah sehingga kita dapat mereguk setiap keberkahan dari setiap detail Bulan Ramadhan yang istimewa. Allahumma Aamiinn ya Rabbal ‘alamin…