Header Ads Widget



MENJAGA KEUTUHAN RUMAH TANGGA DALAM ISLAM


إِنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah,

Marilah Bersama-sama kita panjatkan rasa puji dan Syukur kita kepada Allah Tabarak awa Ta’ala atas segala limpahan Rahmat serta berbagai karuniaNya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasulNya yang mulia, seorang nabi dan rasul penutup serta penyempurna syari’at Allah di muka bumi ini.


Pada kesempatan yang agung ini, izinkanlah khatib untuk menyampaikan khutbah dengan judul: Menjaga Keutuhan Rumah Tangga. Semoga dengan judul ini Allah mudahkan kita untuk merawat menjaga rumah tangga kita. 


Dalam Islam, rumah tangga adalah institusi sakral yang dibangun berdasarkan pernikahan yang sah sesuai syariat. Rumah tangga bukan hanya hubungan sosial antara suami dan istri, tetapi juga merupakan ibadah kepada Allah Tabarak awa Ta’ala. Tujuan utamanya adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, serta menciptakan generasi yang bertakwa.


Rumah tangga dalam Islam adalah sebuah amanah yang membutuhkan tanggung jawab, komitmen, dan pengorbanan dari suami dan istri. Dengan menjalankan peran masing-masing sesuai tuntunan syariat, rumah tangga akan menjadi tempat yang penuh keberkahan, ketenangan, dan cinta yang abadi, baik di dunia maupun di akhirat.


Berikut ini ada beberapa poin yang memungkinkan untuk kita lakukan dalam rangka menjaga keutuhan rumah tangga kita, yaitu:

Pertama: Menjalin komunikasi yang baik

Salah satu pilar penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga adalah menjalin dan menjaga komunikasi yang baik antar sesame pasangan suami istri. Kata-kata yang baik dapat mendinginkan hati pasangan, memperkuat cinta, dan mencegah konflik. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga mencontohkan komunikasi yang penuh kelembutan kepada istrinya.


Dalam salah satu ayatNya Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.(QS. Al-Ahzab:70-71)


Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah,

Di antara cara yang dapat dilakukan dalam menjalin komunikasi yang baik ini adalah:

Berbicara dengan Lemah Lembut, jangan berbicara dengan nada tinggi atau kasar, tetapi gunakan nada yang menenangkan.

Hindari prasangka, selesaikan permasalahan dengan bertanya secara baik, bukan dengan menuduh.

Luangkan waktu untuk berbicara, jadwalkan waktu khusus untuk mendiskusikan hal-hal penting dalam suasana santai.

Jangan mengungkit masa lalu, fokus pada solusi, bukan menyalahkan.

Doa untuk pasangan, selalu memohon kepada Allah agar diberi kemampuan menjaga komunikasi yang baik. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, rumah tangga akan dipenuhi dengan rahmat, ketenangan, dan kebahagiaan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.


Kedua: Saling Mendengarkan

Komunikasi yang baik tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan perhatian. Ini menunjukkan penghormatan terhadap pasangan. Saling mendengarkan antara suami dan istri dalam Islam berarti interaksi penuh perhatian di mana kedua belah pihak mendengarkan dengan hati yang terbuka, memahami, dan menghormati pandangan serta perasaan pasangan. Ini mencerminkan sifat kasih sayang (mawaddah) dan rahmat (rahmah) dalam rumah tangga. Dalam Islam, hubungan suami-istri didasarkan pada komunikasi yang baik, saling menghargai, dan kerja sama untuk mencapai kehidupan rumah tangga yang penuh berkah dan keharmonisan.


Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21)


Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah,

Dan yang paling utama yang kita jadikan sebagai contoh dan teladan dalam hal ini adalah baginda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Dan dalam masalah ini beliau telah mengingatkan kita semuanya. Beliau shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku. (HR. Tirmidzi).


Ketiga: Saling Memberikan Maaf

Sudah menjadi keyakinan umum bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Maka, pasangan suami-istri harus saling memaafkan atas kesalahan dan kekurangan masing-masing.


Sebagaimana firman Allah:

وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu ? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nur:22)


Dalam ayat yang lain, tepatnya dalam surat Ali Imran ayat 134 Allah menjelaskan bahwa salah satu sifat dari orang-orang yang bertakwa itu adalah memaafkan kesalahan orang lain, sebagaimana dalam berfirmanNya:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imran:134)


Ke-empat: Saling Memahami Kekurangan Dan Kelebihan Pasangan

Dalam hubungan suami istri, memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing merupakan langkah penting untuk membangun rumah tangga yang harmonis, saling melengkapi, dan penuh kasih sayang. Islam menganjurkan pasangan untuk saling menerima, menghormati, dan memperbaiki diri bersama-sama demi mencapai kehidupan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagaimana yang disampaikan Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya:

‌لَا ‌يَفْرَكْ ‌مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً. إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

Seorang mukmin tidak boleh membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia tidak menyukai satu sifat darinya, maka ia pasti akan menyukai sifat lainnya. (HR. Muslim)


Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah,

Ada beberapa langkah yang masih mungkin dapat kita lakukan agar terwujudnya pasangan suami istri yang mampu memahami kekurangan dan kelebihan pasangannya. Di antaranya:


Menghargai kelebihan.

Setiap pasangan memiliki keunikan dan potensi. Dengan memahami kelebihannya, suami atau istri dapat memotivasi dan mendukung satu sama lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ini juga meningkatkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat pasangan yang telah diberikan.


Menerima Kekurangan

Tidak ada manusia yang sempurna, dan setiap pasangan pasti memiliki kelemahan. Dengan memahami dan menerima kekurangan pasangan, hubungan menjadi lebih toleran dan penuh pengertian. 


Saling Melengkapi

Yang dimaksud dengan saling melengkapi di sini adalah bahwa pasangan ini saling mendukung, saling membantu, dan saling mengisi kekurangan satu sama lainnya untuk menciptakan keharmonisan dan keseimbangan dalam kehidupan bersama. Kalaupun ada perbedaan antara pasangan suami istri, maka perbedaan tersebut akan menjadi sebuah kekuatan saat mereka bekerja sama sebagai pasangan hidup. Islam mengajarkan bahwa suami dan istri adalah ibaratkan pakaian yang saling menutupi antara satu sama lain, sebagaimana firman Allah Tabarak awa Ta’ala:

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. (QS. Al-Baqarah: 187)


Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah,

Salah satu fungsi pakaian adalah menutupi aurat, di mana setiap orang yang beriman tidak mau jika auratnya dilihat dan diketahui oleh orang lain. Bagitulah fungsi suami istri untuk saling menutupi aurat, aib, cela yang dimiliki oleh masing-masing pasangan. 


Kelima: Saling Mendoakan

Pasangan suami-istri dianjurkan untuk saling mendoakan dalam kebaikan, terutama untuk kebahagiaan dan keberkahan dalam rumah tangga. Dalam Islam, hubungan suami istri bukan sekadar ikatan duniawi, tetapi juga ibadah yang bertujuan mencapai ridha Allah. Memohon kepada Allah berarti menyerahkan segala urusan rumah tangga kepada-Nya, memohon petunjuk, keberkahan, dan kekuatan untuk menjaga hubungan agar tetap harmonis, penuh kasih sayang, dan sesuai dengan ajaran Islam.


Doa dan permohonan kepada Allah adalah bentuk pengakuan bahwa manusia lemah tanpa pertolongan-Nya. Dalam hubungan suami istri, doa menjadi cara untuk memperkuat cinta, mengatasi permasalahan, dan menjaga keutuhan rumah tangga. Selain itu, doa juga menunjukkan tawakal (berserah diri) kepada Allah setelah berusaha memperbaiki hubungan.

Allah Tabataraka wata’ala mengajarkan kepada para hambaNya yang beriman agar berdoa kepadaNya:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍۢ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74)


Ayat ini menunjukkan pentingnya memohon kepada Allah agar hubungan suami istri dan keluarga diberkahi sehingga menjadi sumber kebahagiaan dunia dan akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Dr. Darwis Abu Ubaidah

  Ketua PERSADA Pusat








KHUTBAH KE DUA


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

اَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

اَللَّهُـمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذاَبِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذاَبِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْـنَةِ الْمَحْياَ وَالْمَماَتِ وَمِنْ فِتْـنَةِ الْمَسيِحِ الدَّجاَّلِ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

عِبَادَ اللهِ . إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. ولَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ