Kenikmatan atau sebaliknya kesulitan dalam hidup ini bisa jadi merupakan cobaan dari Allah Swt. Kehidupan di dunia ladang ujian yang dipenuhi dengan berbagai problema. Setiap manusia pasti akan merasakan pahit dan manisnya perjalanan hidup, sebagai bentuk pengujian terhadap keimanan dan ketakwaan kita.
Memang tak jarang kenikmatan yang kita peroleh justru menimbulkan rasa takut akan kehilangan. Kita khawatir kebahagiaan yang kita nikmati sekarang akan lenyap dalam sekejap. Pada sisi lain, saat kesulitan melanda, banyak yang berharap ujian tersebut segera berakhir, padahal kenikmatan maupun kesulitan merupakan cara Allah mengajarkan kita arti sabar, syukur, dan tawakal.
Kecemasan bisa saja datang menghantui, misalnya rasa cemas terhadap musibah yang datang tiba-tiba, cemas jatuh miskin, cemas tertular penyakit menular, dan cemas akan kematian mendadak. Bila kita memahami, kehidupan dunia ini hanyalah bersifat sementara dan tidak abadi, maka rasa cemas pun akan dapat kita kurangi.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; dan kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
Ayat di atas mengajarkan, bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus. Kenikmatan adalah anugerah yang sepatutnya disyukuri, sementara kesulitan kita sikapi sebagi ujian yang perlu dihadapi dengan kesabaran. Keduanya memiliki hikmah yang mendalam jika kita mampu memaknainya.
Dalam menghadapi segala ujian, sepatutnya kita selalu mengingat bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari ketentuan-Nya. Kita akan menemukan ketenangan hati, kekuatan, dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan dengan bersarah diri kepada Allah Swt. (Sayed M. Husen/Dari berbagai sumber)